Indonesia telah 81 tahun merdeka, tetapi kebutuhan buah nasional masih melibatkan pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut terlihat dari besarnya impor buah Indonesia sepanjang 2025. Berdasarkan data BPS, impor buah mencapai 932,7 ribu ton dengan nilai US$2,02 miliar. Angka tersebut setara sekitar Rp33,2 triliun.
Nilai tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang mencapai 780,5 ribu ton. Nilai impor buah pada tahun tersebut tercatat sekitar US$1,66 miliar. Kenaikan ini menunjukkan kebutuhan pasar terhadap buah impor masih cukup besar. China menjadi pemasok utama dengan volume 649,4 ribu ton. Nilainya mencapai sekitar US$1,3 miliar pada 2025.
Apel menjadi salah satu komoditas yang masih mengandalkan pasokan luar negeri. Data Kementerian Pertanian mencatat impor apel mencapai 154.692 ton pada periode Januari hingga Juni 2025. Sementara itu, produksi apel nasional pada 2024 mencapai 131.310 ton. Data tersebut menunjukkan tantangan besar bagi pengembangan produksi apel domestik.
Lengkeng juga masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan di dalam negeri. Produksi lengkeng Indonesia mencapai 64.958 ton pada 2024. Kementerian Pertanian menyebut pengembangan kawasan lengkeng diarahkan untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor. Pengembangan tersebut menghadapi kendala lahan, benih unggul, teknologi produksi, hingga pemasaran.
Karena itu, tingginya impor buah tidak berarti Indonesia tidak mampu menghasilkan buah sendiri. Persoalannya juga berkaitan dengan jenis, kualitas, kontinuitas, harga, dan kebutuhan pasar. Penguatan produksi lokal tetap penting agar petani memperoleh pasar yang lebih luas. Selain itu, konsumen dapat menikmati buah berkualitas dengan pasokan yang lebih stabil. Langkah tersebut membutuhkan dukungan teknologi, riset, infrastruktur, dan kebijakan pertanian yang konsisten.
