Membeli Properti Harus Dipikirkan Dengan Matang, Ini Tipsnya – 2022

Membeli Properti Harus Dipikirkan Dengan Matang, Ini Tipsnya – 2022

Permintaan untuk membeli properti selalu meningkat setiap tahunnya. Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan memperkirakan hingga 2025 angka kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 30 juta unit. Namun, Hanya 18 persen calon pembeli yang memiliki cukup pengetahuan sebelum memutuskan memilih dan membeli rumah.

Padahal, nilai pembelian properti bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah dan komitmen pembayaran bisa mencapai 20 tahun. Vina Yenastri, ahli properti dan pembiayaan Pinhome, memberikan sedikit tips mengenai kesalahan umum pembeli properti usia muda yang dapat mengakibatkan penyesalan. Diharapkan masyarakat dapat lebih bijak saat membeli properti di usia muda.

Pertama, tidak atau kurang melakukan riset yang cukup sebelum memutuskan membeli properti yang diinginkan.

“Seringkali banyak pembeli properti di usia muda yang kurang melakukan riset lebih dalam sehingga sangat terasa ketika sudah tinggal di hunian ternyata sangat jauh dari akses jalan dan tidak melihat suasana lingkungan sekitar, hanya tergiur kondisi rumah saja,” jelas Vina.

Kemudian, membeli properti tanpa tujuan yang jelas hanya karena tekanan sosial. Tekanan sosial ini biasanya berasal dari kalangan terdekat seperti keluarga dan teman.

“Di lingkungan sering ditemui membeli properti di usia muda hanya karena tekanan sosial dari lingkungan sekitar, jadi hanya langsung membeli saja tanpa cari tahu lebih dalam dan membuat strategi yang tepat ketika akan membeli rumah,” tutur Vina.

Ketiga, tidak memiliki tabungan dan investasi. Perlu diketahui sebelum membeli properti harus menyiapkan tabungan khusus properti untuk uang muka yang berpengaruh terhadap lama cicilan properti.

“Ketika membeli properti secara terburu-buru, banyak sekali yang memiliki tabungan masih minim dan tidak memiliki investasi sehingga uang hanya habis untuk properti,” ujar Vina.

Keempat, tidak mengecek kondisi keuangan dan tidak menyiapkan dana ekstra. Hal ini karena tidak menyiapkan tabungan yang cukup namun ingin segera membeli properti.

“Kenyataannya, biaya-biaya di awal untuk membeli properti seringkali berubah. Beberapa hal yang bisa membuat berubah seperti nilai appraisal rumah tidak sesuai dengan harga transaksi. Sebagai contoh, bank ternyata memberikan plafon lebih kecil dari yang awalnya 85 persen sehingga kita hanya DP 15 persen namun ternyata bank memberikan plafon hanya sebesar 70 persen sehingga kita harus menyiapkan dana lebih banyak untuk DP,“ jelas Vina.

Kelima, hanya memikirkan jangka pendek tanpa menganalisa kondisi keuangan dan tanggungan. “Sebagian orang melakukan pembelian rumah dengan jumlah terbesar dengan komitmen terpanjang selama hidup. Namun, masih banyak orang yang hanya ingin punya properti secara buru-buru tanpa tujuan jangka panjang, terutama pembeli di usia muda, hanya memilih rumah secara asal saja,” tutur Vina.

Riset: Usia 45-54 Tahun Paling Antusias Membeli Properti Lewat Daring

Perusahaan teknologi yang bergerak di bidang properti, Lamudi menyampaikan hasil riset tentang antusiasme masyarakat dalam mencari properti lewat daring. Chief Executive Officer (CEO) Lamudi, Mart Polman mengatakan pencarian properti dari segmen milenial dan generasi Z dalam klasifikasi umur 25 – 34 tahun mengalami pertumbuhan hingga 100 kali lipat dari awal berdirinya Lamudi pada 2014 hingga 2021.

Dalam tiga tahun belakangan atau pada 2018 sampai 2021, menurut dia, pengguna berusia 45 – 54 tahun mengalami kenaikan hingga 250 persen. “Ini menunjukan bahwa PropTech kini semakin memikat pencari properti lintas generasi,” kata Mart Polman dalam konferensi pers virtual “Lamudi Property Fair” pada Rabu, 8 Juni 2022.

Metode penjualan properti lewat daring, menurut Mart Polman, memiliki berbagai keuntungan dari segi kemudahan dan fleksibilitas. Calon pembeli dapat dengan leluasa memilih jenis dan karakter properti pilihan mereka serta membandingkan harganya, apakah ada promo atau penawaran menarik atau tidak.

Dalam membeli properti, Mart Polman melanjutakan, calon konsumen tentu tidak dengan mudah menyepakati suatu transaksi karena ini adalah investasi dengan nilai yang cukup besar. “Bisa jadi, ini kali pertama seseorang membeli rumah dan mereka pasti kekhawatir karena membeli rumah merupakan salah satu transaksi terbesar yang akan dilakukan selama hidupnya,” ujarnya. “Sebab itu, proses penjualan properti online dan offline harus berjalan bersamaan.”

Ketika seseorang mencari properti idaman lewat daring dan menemukan apa yang mereka inginkan, Mart Polman melanjutkan, agen properti juga harus memberikan edukasi dan keamanan dalam bertransaksi. “Transparansi informasi mengenai penawaran proyek properti tertentu menjadi penting serta memfasilitasi komunikasi antara pengembang dan calon pembeli properti,” katanya.

Mengenai kecenderungan properti yang dicari calon pembeli rumah usia 45-54 tahun tadi, Vice President of Corporate Sales Lamudi, Michael Ignetius Kauw mengatakan, mereka umumnya mencari rumah tapak atau landed house. “Ini jenis properti yang paling banyak dicari hampir di semua kategori usia,” ucapnya.

Soal harga, sebagian besar calon pembeli mencari properti dengan nilai Rp 300 juta sampai Rp 1 miliar. Angka tersebut, menurut Michael, relatif terjangkau dan sebagian besar adalah mereka yang baru pertama kali membeli rumah. Dan yang menarik, dia melanjutkan, ada juga anak muda yang mencari rumah tapak dengan ukuran besar untuk dihuni bersama keluarga besarnya, seperti istri, anak, dan orang tua. Mereka biasanya mencari properti di wilayah Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Tak cukup berbekal kejelian dalam mencari properti idaman, Michael menambahkan, penting juga literasi finansial bagi calon pembeli. Misalkan, bagaimana cara mengajukan kredit pemilikan rumah atau KPR dan ke lembaga pembiayaan yang mana. Karena itu, tiada salahnya calon pembeli memanfaatkan fasilitas atau fitur konsultasi finansial sehingga bisa mendapatkan properti impian dengan harga yang sesuai.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )